Pada tanggal 02-05 Juli 2025, tim Satuan Pengawasan Internal UIN SATU Tulungagung melaksanakan kegiatan penguatan Satuan Pengawasan Internal pada Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum yang dilaksanakan di kampus UPN Veteran Surabaya. Kedatangan tim SPI UIN SATU Tulungagung disambut langsung oleh Kepala Satuan Pengawasan Internal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya ibu Dr. Rida Perwita Sari, S.E., M.Ak. Selain itu terdapat juga Sekretaris Satuan Pengawasan Internal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya ibu Hanna Nurhaqiqi, S.I.P., M.A. yang juga merangkap sebagai Koordinator Bidang Manajemen SDM & Kinerja dan anggota Satuan Pengawasan Internal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya lainnya.
Dalam pertemuan tersebut, Ibu Rida dan tim Satuan Pengawasan Internal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya menjelaskan kepada kami mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sistem audit di sana dan juga tata kelola kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Satuan Pengawas Internal pada satker Badan Layanan Umum. Ibu Rida menjelaskan bahwa “tata kelola kelembagaan harus dirancang untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi secara berkelanjutan. Hal ini mencakup pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas antar jajaran pimpinan, staf, dan unit kerja, sehingga setiap proses kerja dapat berjalan dengan terstruktur dan efisien”. Selain itu, menurut Kepala SPI UPN Veteran tersebut, tata kelola yang baik harus menjunjung tinggi prinsip transparansi agar semua aktivitas dan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Dalam diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya mekanisme pengawasan dan evaluasi sebagai bagian integral dari tata kelola kelembagaan. Pengawasan yang efektif membantu mengidentifikasi risiko, ketidaksesuaian, serta potensi penyimpangan, sehingga dapat diambil tindakan korektif secara tepat waktu. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur yang diterapkan masih relevan dan mendukung perubahan lingkungan serta kebutuhan organisasi.
Selain itu, dilakukan sharing antara kedua belah pihak tentang manajemen risiko, penerapan program pengawasan pada satker Perguruan Tinggi Negeri yang menerapkan Sistem Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU), baik dari tahapan manajemen risiko, strategi pengelolaan manajemen risiko, peran stakeholder, dan pementaan tantangan dalam manajemen risiko.
Agar manajemen risiko dapat berjalan efektif, ibu Rida merekomendasikan beberapa hal penting, diantaranya perlunya komunikasi yang baik antar anggota organisasi, pelatihan dan peningkatan kesadaran mengenai risiko, serta pemanfaatan teknologi dan alat bantu dalam pemantauan risiko secara berkelanjutan. Dengan menerapkan manajemen risiko secara sistematis, organisasi akan lebih siap menghadapi ketidakpastian dan mampu mengelola risiko dengan cara yang lebih terencana dan terukur.
